Pilgub NTT, NTT Menantikan Jokowi

Jumat, 1 Maret 2013, kelima pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2013-2018 menyampaikan visi-misi dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kelima pasangan calon itu adalah Frans Lebu Raya-Beny Litelnony yang diusung PDIP, Esthon Foenay-Paul Tallo yang merupakan jago Partai Gerindra dan Partai Damai Sejahtera (PDS), Beny K. Harman-Welem Nope yang didukung Partai Demokrat, Ibrahim Medah-Melki Laka Lena yang diusung Partai Golkar, dan Christian Rotok-Paul Liyanto dari jalur independen.

Pemaparan visi-misi ini rupakan awal pertempuran mereka di mata publik untuk merebut kursi NTT 1 sekaligus menjadi titik permulaan kampanye. Dari visi-misi yang “dijual” inilah publik bisa melihat, mengkritisi, dan memilih jika menyentuh persoalan utama NTT pada umumnya. Harapannya tentu saja visi dan misi yang telah disampaikan kemudian diberi bobot dalam kenyataan setelah masa kepemipinan mereka. Jangan sampai para calon hanya mengumbar janji alias menyediakan pepesan kosong kepada masyarakat NTT.

Siapa pun gubernur yang nantinya memimpin NTT ke depan, dia harus menghadapi aneka persoalan klasik NTT selama ini.

Pertama, kemiskinan. Meskipun banyak pihak yang tidak mau mengakui bahwa NTT miskin, tetap dalam kenyataannya banyak penduduk NTT yang berkutat dengan kemiskinan dalam aneka wajah. Ada banyak faktor yang menyebabkan kemiskinan NTT: iklim dan geografis yang kurang mendukung, beban budaya yang banyak makan biaya, minimnya pengetahuan dan keterampilan dalam menyiasati alam yang tidak terlalu subur di beberapa tempat, dll. Kemiskinan inilah yang kemudian melahirkan olok-olokkan yang sering terdengar bahwa NTT=Nusa Tertinggal dan Terbelakang. Seorang gubernur harus menemukan bersama masyarakat NTT akar kemiskinan mereka, kemudian merumuskan solusi-solusi praktis kerakyatan yang bisa mengurangi angka kemiskinan. Maka NTT perlu seorang pemimpin yang berjiwa enterpreuner dan bukan seorang birokrat-aristokrat.

Kedua, rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Persoalan kedua ini menjadi tantangan sekaligus godaan bagi pemimpin NTT yang baru. Menjadi sebuah tantangan, karena NTT bukanlah propinsi yang kaya dengan Sumber Daya Alam (mineral dan hutan). Menjadi sebuah godaan, karena di tengah rendahnya angka PAD seorang gubernur akan mencari solusi jalan pintas yang jelas bertentangan dengan kehendak mayoritas masyarakat NTT. Salah satunya adalah pertambangan. NTT yang merupakan propinsi kepulauan memang mengandung sedikit SDA mineral di wilayah pantai utara. Namun, animo utama masyarakat NTT menolak pertambangan di NTT karena berbagai macam alasan. Karena itu, gubernur yang baru seharusnya adalah seorang yang kreatif-inovatif dan bukan bermentalitas instan-pragmatis dalam menemukan solusi bagi peningkatan PAD. Calon yang mendukung pertambangan sebaiknya tidak dipilih. NTT menjadi wikayah destinasi pariwisata yang baru setelah Bali dan NTB. Jika mungkin, kita perlu mendukung calon yang punya minat dalam mengembangkan potensi pariwisata karena sektor ini mengambil keuntungan dari alam NTT tanpa merusaknya untuk jangka panjang.

Ketiga, rendahnya mutu pendidikan. NTT selalu disebut-sebut sebagai salah satu propinsi dengan tingkat pendidikan yang rendah. Akar masalahnya pun kompleks mulai dari minimnya sarana prasarana sekolah dan guru, infrastruktur yang jauh dari memadai, mentalitas masyarakat, sampai kepada persoalan sulitnya akses ke pendidikan tinggi karena faktor kemiskinan. Gubernur yang baru harus sungguh memperhatikan persoalan ini. Minimal menurunkan angka putus sekolah bagi masyarakatnya yang masih usia sekolah.

Kelima, pluralisme kultural yang membentuk NTT. Sebagai propinsi kepulauan, NTT terdiri dari berbagai suku yang berbeda sama sekali satu dengan yang lainnya. Hal ini bisa menjadi kekayaan, bisa juga menjadi batu sandungan dalam proses pembangunan. Sofinisme kultural tiap daerah akan sangat mempengaruhi kinerja pembangunan. Karena itu, NTT perlu pemimpin yang berjiwa terbuka dan mampu merangkul semua daerah yang berbeda budaya dengannya. Selain terbuka, NTT juga perlu pemimpin yang adil dan tidak sukuis dalam opsi pembangunannya.

Masih banyak persoalan lain yang menanti di depan mata seorang NTT 1 ke depan. Yang terungkap di atas hanyalah yang klasik saja. Masih ada persoalan-persoalan baru yang muncul belakangan ini dan perlu juga perhatian serius NTT 1. Karena itu, NTT perlu seorang pemimpin yang berjiwa pelayan. Seorang pemimpin yang datang BUKAN UNTUK DILAYANI OLEH MASYARAKATNYA TETAPI DATANG UNTUK MELAYANI MASYARAKATNYA. NTT tidak perlu pemimpin yang cerdas tetapi korup dan tidak punya hati untuk rakyat NTT yang mayoritasnya adalah masyarakat kecil dan sederhana. NTT perlu pemimpin yang punya hati, mau mendengarkan apa yang sesungguhnya paling diperlukan dan menemukan bersama rakyatnya bagaimana jalan keluarnya. Di sini perlu seorang pemimpin yang berani turun ke bawah (TURBA) tanpa kekangan birokrasi berbelit.

Bookmark the permalink.

Comments are closed.